Sabtu, April 19, 2014

KEBUTUHAN INTIM PEREMPUAN

Perempuan itu sungguh mahluk yang sangat unik, cantik dan sangat spesial. Karena sangat spesial, makanya banyak yang ingin jadi perempuan… sementara , perempuan seutuhnya yang bahagia dan terpenuhi kebutuhannya lahir batin, pasti tidak pernah ingin jadi mahluk lain. Kalau boleh memilih kehidupan, seandainya reinkarnasi itu ada, pasti ingin jadi perempuan lagi.

Belum lama ini,

di apartment tempat tinggal saya ada supermarket kecil. saat saya sedang antri di depan kasir, berdiri seorang perempuan cantik yang sangat anggun dan sepertinya, dari penampilannya, wanita karir. Mula-mula sepertinya kasir tidak mendengar kata-kata yang keluar dengan halusnya dari ibu itu. Akhirnya baru ngeh , ternyata ibu itu menanyakan kondom. Kasir itu dengan lempengnya mengambilkan beberapa jenis kondom . Ibu itu kelihatan sekali tidak nyaman dengan inisiatif kasir. ‘’Udah-udah , saya ambil yang ini saja… ‘’ … ujar sang ibu. Ibu itu langsung bergegas pergi sambil membawa barang belanjaanya. Pemandangan ini mungkin buat banyak orang hal biasa. Tapi saya yakin buat sebagian besar perempuan , hal ini sepertinya sangat sensitif, apalagi jika mengingat budaya yang berlaku di Indonesia. Buat sebagian lagi, pasti merasa tidak ada yang salah di zaman modern seperti sekarang. Seorang perempuan sah-sah saja menjaga dan melindungi kesehatan reproduksinya, salah satunya, dengan cara membeli kondom.

Memang ada beberapa kebutuhan intim perempuan yang rasanya sangat sensitif untuk dibicarakan , jangankan di depan publik, bahkan di depan teman-temannya sendiri. Tahun lalu, saat saya di ‘’endorse’’ sebuah perusahaan slimming centre yang memang akhirnya berhasil mengurangi size baju saya… sesaat itu juga banyak perempuan langsung mendaftarkan diri ikut program yang tidak murah itu (Bayaran Bulanannya lebih mahal dari cicilan mobil ALPHARD terbaru setiap bulan , loh hehehe…) Saking niatnya, ada yang rela terbang seminggu tiga kali ke Jakarta selama berbulan-bulan dari ujung timur Indonesia hanya untuk mengecilkan size bajunya. Saat dia mendaftar, berulang kali dia wanti-wanti management dan saya, untuk merahasiakan keikutsertaannya dia di program tersebut. Saat dia berhasil , wah senangnya luar biasa… bukan hanya karena berhasil turun dari size 18 jadi size 12, tapi lebih karena kepuasannya membuat sahabat-sahabatnya mati penasaran.

Pembaca buku saya yang mengikuti saya dari awal saya menulis buku Miss Jinjing, pasti tidak lupa cerita demam sirup pinang dari Jambi yang hits itu… Yang sangat ampuh membasmi keputihan dan ‘’memperetkan’’ vagina yang sudah tidak lagi seperti masih gadis… Keampuhan sirup ini sudah sangat teruji, paling tidak saat itu, saya sudah mengujinya terlebih dahulu, hehehhee…

Sirup yang sangat eksotis dari pedalaman Tungkal di Jambi ini, jadi buruan paling hits saat itu. Perempuan cantik rela antri berbulan-bulan dan menunggu kedatangan saya dari Jambi. Saat itu saya masih tinggal di Jambi dan sesekali ke Jakarta untuk keperluan promosi buku Miss Jinjing. Setiap saya turun ke Jakarta, saya membawa ratusan botol sirup pinang dan sirup itu habis dalam hitungan tidak sampai sejam setelah saya mendarat di Jakarta. Perempuan-perempuan cantik ini membeli sirup ini dengan cara yang sangat ‘’halus’’ dan’’ invisible’’, bahkan beberapa tidak pernah menampakkan diri mengambil langsung botolnya.

Setelah mereka mencobanya… banyak yang dengan malu-malu melaporkan keberhasilannya.. dan pastinya dengan PS: JANGAN BILANG SIAPA-SIAPA ya, Mbak… Ketika saya sudah tidak lagi tinggal di Jambi, sampai hari ini masih banyak banget yang menanyakan sirup pinang yang hits itu. Ternyata setelah empat tahun berlalu, masih banyak yang tidak bisa melupakan eksotisme dan keampuhan sirup pinang. Kalau saya ibu gubernur Jambi, pasti warisan nenek ini akan saya kembangkan secara modern. Sayangnya nasib saya, bukan jadi ibu gubernur Jambi , hehehehe…

Kalau anda pernah membaca kisah tongkat Madura yang heboh di buku Rumpi Sampai Pagi, Banyak yang menganggap tongkat Madura itu itu mitos. Saya baru mempercayainya setelah sahabat saya itu menjadi korban terlalu saktinya tongkat Madura. Meski katanya mitos, tapi tetap diburu di bawah tanah oleh perempuan-perempuan cantik yang selalu punya ketakutan tersendiri tidak bisa lagi menyenangkan dan memuaskan pasangannya. Saat hunting barang ginian, selalu deh bilang… ‘’Jangan bilang siapa-siapa ya ‘’. Semakin sering kalimat ini terucap, semakin semua orang tahu. Bahkan sepertinya se Indonesia raya rasanya tahu.

Saat operasi ‘’Vaginoplasty’’ lagi hits banget… ada loh ibu pejabat yang minta saya temani terbang ke Jakarta untuk menemui dokter bedah plastik terkenal. Berulang kali Ibu pejabat itu bilang , ‘’ aman kan dek  ?‘’ dan bolak – balik memastikan tidak ada seorangpun yang tahu hal ini, bahkan tidak ingin diketahui keberadaan ibu pejabat ini saat itu. Rasa sakit dan tarif dalam dollar dikalahkan tekad untuk mengembalikan cinta dan kasih sayang sang Bapak.

Sesampainya di klinik yang sangat ‘’private’’ , tidak banyak terlihat pasien di sana. Bak agen rahasia saya cari informasi... dokter kondang ini sudah penuh ‘’appointment’’ nya setahun ke depan.
Perasaan ‘’insecure’’ ternyata menghasilkan kebutuhan khusus yang harus dipenuhi dengan ‘’maximum security’’, hehehee... Harga buat kebutuhan-kebutuhan dengan maximum security, tidak murah dong.. tapi perempuan-perempuan cantik ini tidak terlalu peduli. Kepuasan diatas segalanya.

Belum lama ini, saya berkenalan dengan seorang nenek, sebut saya Ibu Ijah, umurnya 85 tahun. Diam-diam, nenek cantik yang penampakannya seperti usia 50 an, menyimpan harta karun terpendam. Dia menyimpan resep yang usianya sudah ratusan tahun, ada yang bisa membasmi keputihan, memperetkan vagina, menambah serunya kehidupan malam bersama pasangan ( ahhhh ) dan yang super ajib, resep yang katanya ampuh menyembuhkan kanker… terbuat dari kulit manggis, kulit sirsak dan puluhan jenis daun-daunan, batang-batangan dan akar-akaran.

Saking penasarannya, beberapa jenis langsung saya coba, dan hasilnya…. TARAAAAAAA… ohemjiiiii ( kedip-kedip – merem –melek )…. Dan sirup pinangpun tidak lagi jadi legenda…. Saking terpesonanya, langsung dong, resep nenek cantik ini jadi bahan rumpian dengan sahabat saya. Dalam hitungan tidak lebih dari 60 detik, geger lah se group. Waktu saya bikin jadi status… gempar lah se komunitas. Beberapa malah langsung inbox, apakah sudah menerima pemesanan dan menanyakan harganya. Sepertinya ketidaktersediaan sirup pinang akan segera ada substitusinya. Insting bisnis segera bekerja, kali-kalian sepertinya tidak butuh lagi kalkulator. Penemuan buku tua resep sang nenek jadi lebih berharga dari penemuan peti harta karun dalam sejarah.

Yang jadi trend sekarang dan bakal jadi trend beberapa tahun ke depan adalah terapi stemcells yang diambil dari sel sendiri dan dikembangbiakan di laboratorium khusus , lalu diinjeksi ke tubuh kita. Biaya terapi ini berkisar mulai dari USD 10.000 di korea , USD 20.000 di Jerman ( belum termasuk ongkos bolak-baliknya loh, karena laboratorium pengembangbiakan sel nya belum ada di Indonesia ). Untuk kesempurnaan dibutuhkan sampai 5x injeksi. Terapi yang katanya bisa ‘’rejuvenate’’ organ-organ dalam tubuh 20-30 tahun lebih muda dari usia biologis sebenarnya. Tapi bukan itu yang jadi perbincangan para ‘’the have’’ di Indonesia yang sudah banyak yang terbang khusus ke Seoul dan Zurich khusus untuk terapi ini.

Perbincangan paling hot saat ini : Terapi ini juga ampuh me ‘’rejuvenate’’ kehidupan seksual secara fantastis. Teman saya yang sudah mencoba, katanya seperti usia 18 tahun lagi…. ‘’Hot.. Hot… Hot… ‘’ kata dia sambil cengar-cengir. Dalam terapi ini, biasanya jika sudah menikah, selalu dianjurkan agar kedua-duanya diinjeksi bersamaan. Bisa kebayang dong, bahaya dampaknya jika yang satu tiba-tiba bak remaja yang lagi puber, yang satunya lagi sudah lembek-keras-lembek-keras…. Hehehhee…

Kebutuhan intim perempuan itu jelas ada. ‘’Segmented’’ dan ‘’Niche Market’’.  Harga dan tarif bukan masalah dan rasanya tidak ada tawar – menawar dalam bisnis ini, tapi jelas tidak bisa dipasarkan dan dipromosikan secara terbuka seperti menjual ‘’consumer goods’’ atau jasa yang lainnya. Semakin mahal dan semakin eksotis mitosnya, semakin diburu. Semakin sulit perburuannya, semakin heboh gosipnya di kalangan ‘’ the have’’, akan semakin banyak permintaanya.

Anda tertarik dengan bisnis ini ?

Love,

Miss Jinjing

Rabu, April 16, 2014

TULISAN YANG MEMBUAT AKU HARUS KUAT BERDIRI DENGAN KEPALA TEGAK

TULISAN YANG MEMBUAT AKU HARUS BERDIRI DENGAN KEPALA TEGAK


Mungkin benar ya... tulisan aku terlalu provokatif... tapi seperti saya bilang... PEREMPUAN DAN IBU BERHAK DAN WAJIB MELINDUNGI ANAK, SUAMI DAN KELUARGA dari virus - virus gaya hidup yang gak jelas ini.... dan kewajiban saya untuk MENGHIMBAU PEREMPUAN DAN IBU... karena saya PEREMPUAN dan IBU... 

belum selesai tuh congque2 ngebully gue... dah langsung kejadian kan.... korbannya anak kecil yang tak berdosa... dan bahkan pemerintah india sudah mengakui mereka sebagai gender ke 3.... 

sudah terbayar harga kerja keras ku menulis dan berdiri dengan kepala tegak... 

ini ni... tulisan yang kemarin habis2an dibully... 

TARGET MARKET BARU : GENDER KE 3 

Sejujurnya, saya bukan anti gay tapi juga tidak pernah menyetujuinya, malah saya suka jengkel sama mereka. Tuhan itu menciptakan segala sesuatunya untuk saling melengkapi dan saling membahagiakan dalam mengarungi kehidupan, eh bisa-bisanya mahluk yang satu ini, malah justru sibuk asik saling main pedang-pedangan, padahal kan mestinya nih, skenarionya yang dari Atas itu kan , dengan pedangnya mereka main perang-perangan sama kita. Sudah jumlah perempuan semakin hari semakin banyak, eh laki-lakinya malah sibuk dengan preferensi baru. Semakin tidak kebagian deh kita. Celakanya ni, yang tertular itu justru banyak yang terpelajar, ganteng dan punya karir yang bagus. Yang tersisa itu banyakan yang tidak bermutu, tidak bermodal ( modalnya hanya yang satu itu yang digandang-gadang ) dan penjahat kelamin pulak…. Ini curhat dari hati yang paling dalam loh...

Anyway, di sini saya tidak bermaksud membahas urusan saya yang sampai hari ini tidak kebagian, hehehee… bahasan hari ini , adalah perkembangan dunia ritel global yang mulai menerima target market baru, yaitu gender ke 3 tadi, GAY. Harus dibedakan Antara Gay sebagai preferensi seksual dan Gay sebagai gaya hidup. Saya malah melihatnya sekarang lebih kuat sebagai gaya hidup. 

Yang harus dipersalahkan, sekali lagi, adalah media televisi yang semakin hari semakin menonjolkan peran kaum ini, bahkan sering tanpa filter sama sekali. Akibatnya, banyak yang salah persepsi, banyak yang melihat ini sebagai gaya hidup yang baru yang lebih memudahkan mencari uang jika masuk ke kalangan ini, bahkan beberapa profesi seakan terlegitimasi menjadi milik kaum ini. Tanpa disadari akhirnya banyak orang yang normal pun jadi tertular preferensi ini setelah sebelumnya tertular gaya hidupnya terlebih dahulu.Hal yang sering terjadi, seorang ’’ public figure ‘’yang tadinya semua orang tahunya dia normal, dia straight, eh, sekarang malah bahasa tubuh nyajadi ‘’ngondek banget’’ dan penampilannya oh so gay banget. Akhir akhir ini dia sering terlihat ‘’gentayangan’’ sendirian di mal dengan mengenakan celana jeans warna peach dan blus warna kuning . Jelas laki-laki normal tidak akan berpenampilan seperti itu. Padahal dia masih beristri loh, dan juga seorang selebriti. Saya sering berpikir, bagaimana cara dia keluar rumah dengan penampilan seperti itu, sementara dia masih beristri. 

Karena semakin sering dan semakin kencang ekspose yang diberikan media terhadap kaum ini, bukan saja di Indonesia, tapi juga di banyak negara di dunia, membuat eksistensi kaum ini semakin kuat sehingga mereka semakin berani tampil mengakui eksistensi mereka. Eksistensi mereka ini yang memperlihatkan simbol simbol tertentu dan signature style tertentu untuk saling menandakan satu sama lain, kadang hanya kaum mereka yang tahu, dan banyak yang sudah menjadi rahasia umum. Banyak dari mereka malah yang terlihat usaha banget untuk memperlihatkan jati diri baru mereka , bahwa mereka bukan lagi pria dengan preferensi lawan jenis. Untuk itu mereka membutuhkan ‘’signature style’’ yang baru, ‘’baju baru’’. Kebutuhan mereka pun jadi lebih banyak dan lebih meriah dari kaum pria normal lainnya. Kaum ini juga dikenal lebih konsumtif dan lebih berani tampil dibanding pria normal. 

Prilaku dan gaya hidup seperti ini yang sepertinya mewabah, segera disikapi pelaku bisnis , pemilik brand-brand. Berbeda dengan di Thailand yang sudah menerima kaum ini sebagai gender ke 3 dalam kehidupan mereka sehari-hari, mungkin di Indonesia belum terlalu terlihat, walau di Jakarta sudah mulai terlihat butik butik internasional dan lokal yang memajang barang-barang yang dianggap menjadi simbol atau signature style mereka. 

Jika kita melintas di depan etalase sebuah butik, mungkin dahi kita sering mengernyit melihat model sepatu pria, tapi warnanya lebih merah dari lampu merah dipinggir jalan, berpaku-paku pulak dan ada heelsnya... jelas pria yang ‘’straight’’ bukan target marketnya. Atau anda melihat tas cowok yang bentuknya lebih mirip tote bag perempuan dari seorang perancang terkenal tapi ada gambar tengkoraknya, jelas itu bukan barang yang bisa dibelikan untuk pacar anda di hari valentine, karena itu signature style nya kaum gay... salah-salah, pacar anda bisa digoda kaum ini. 

Hari gini, jangan heran jika anda sama-sama kaum ini mencoba lipstick atau lipgloss terbaru digerai kosmetik kesayangan anda, andanya risih, merekanya mah biasa-biasa saja, lempeng-lempeng saja. Malah genitan mereka dari kita dan mereka lebih berani ‘’complain’’ dari kita. Jangan sedih juga jika anda duduk antri panjang di bangku yang sama di dokter kulit dengan kaum ini, dan mereka jauh lebih mulus dari kita, kadang sejujurnya kita bisa minder jika duduk bersebelahan dengan mereka. Pernah beberapa kali saya antri di bank, antrian yang panjang dan lama, eh mahluk ciptaan Tuhan yang satu ini, yang berdiri antri di depan saya, memakai tas Hermes yang saya tidak punya, memakai blus sutra warna kuning stabilo dengan bordir hitam , ikat pinggang hermes dan sepatu loubi, modelnya sih sepatu cowok, tapi warna nya itu loh, kuning stabilo ( dan saya tahu banget kalau itu brand Perancis yang mahal banget )... Rambutnya, rasanya gadis sunsilk pun kalah... 

Jangan ’’ pengsan’’ jika hari gini tiba-tiba anda melihat pria , yang jelas-jelas ‘’looknya’’ pria banget, tapi memakai sepatu flatties atau sepatu ballerina atau memakai wedges menyala. Jangan salahkan mulut anda, kalau anda tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak mencelanya. Tapi itu kenyataan. Jika anda masuk ke butik sepatu ternama kelas dunia, lalu anda melihat sepatu-sepatu yang bentuknya membuat anda ‘’speechless’’ , jelas itu bukan buat pacar anda... jika anda nekad tetap memberikannya, bisa jadi dia akan marah, tersinggung dan tidak akan memakainya karena bakalan di ‘’bully’’ sama teman-temannya. Anda perlu curiga jika dia menerimanya dengan senang hati dan mengenakannya kemana-mana, mungkin dia sedang dalam tahap sedang terkontaminasi virus gaya hidup yang satu ini. Semakin hari semakin banyak produk-produk fashion seperti dompet , dasi, dan berbagai aksesoris yang memang secara sengaja diciptakan untuk mereka, karena mereka adalah pangsa pasarnya yang potensial. Buat kaum ini, harga sepertinya tidak masalah, gengsi dan eksistensi jati diri baru di atas segalanya. 

Adalah biasa bagi mereka, terlihat manicure dan pedicure sambil hair spa di salon ternama secara rutin. Jangan heran juga dan jangan juga terlihat kepo , mendengar bahasa planet mereka saat mereka ngerumpi. Anda masih normal jika anda tidak mengerti bahasa atau idiom-idiom yang mereka gunakan dan jika anda minder karena mereka jauh lebih terawat dari kita, karena bukan kita yang salah, tapi merekanya yang keterlaluan, hehheee... 

Gaya hidup ini juga disikapi bukan hanya usaha ritel fashion, tapi juga gaya hidup lainnya, seperti salon dan spa, cafe, club, night club dan lounge, walau belum terang-terangan seperti di luar negeri, namun ada beberapa spot-spot tertentu yang jadi ‘’milik’’ mereka. Perempuan dilarang masuk tapi pria normal diterima dengan senang hati. Pria normal jangan coba-coba masuk ke sana, kalau tidak mau di ‘’makeover’’... Anda harus ketat mengawasi pacar anda, karena sekarang saingan anda yang paling berbahaya bukan lagi perempuan atau ayam kampung , tapi justru kaum ini. Ada yang bilang, sekali kena, mereka akan susah untuk kembali lagi kecuali tangan Tuhan yang mengembalikannya. 

Mungkin di Indonesia belum seperti di Paris atau Milan , kaum ini punya toko buku sendiri, toko pakaian dalam atau sex shop khusus untuk kaum mereka. Di luar negeri, kaum ini adalah bisnis... pangsa pasar yang ’’ pemainnya ‘’ belum terlalu banyak,tapi jelas ada market yang untuk digarap secara serius. Saya percaya, cepat atau lambat, hal ini pasti akan terjadi di Indonesia, atau malah sudah ? walau belum terang-terangan ? 

Dalam dunia bisnis, sebuah brand tidak lagi bisa menentukan apa yang akan ditawarkan, tapi market yang akan menentukan dan brand itu akan menjadi milik market itu sendiri. Makanya tidak usah heran jika di Milan atau di Paris sudah ada brand-brand yang dilegitimasi jadi simbol kaum ini. Sekarang sih kita yang straight hanya bisa menonton dari jauh, eh salah… dari dekat. Bukankah… Gay is woman best friend forever ? 

Love

Miss Jinjing

PS: 

AKU GAK TAKUT ANCAMAN DEMO...  

AKU GAK TAKUT ANCAMAN SOMASI... 

TAPI AKU TAKUT ANCAMAN MASA DEPAN ANAK-ANAK KU dan MASA DEPAN BANGSA KU

Rabu, April 02, 2014

RETAIL DI INDONESIA DAN PRESIDEN BARU

Sebentar lagi kita presiden baru. Walaupun bukan pakar politik atau pakar ekonomi, saya sudah lama memprediksi apa yang bakalan terjadi setelah kita presiden baru, tapi boleh kan saya mengamati dan memprediksi apa yang bakalan terjadi dengan negeri ini. Seperti yang ayah saya pernah ajarkan. Right is Wrong is my country, Republic of Indonesia.Ayah saya selalu mengajarkan saya optimisme skalipun Indonesia dalam masalah yang besar, misalnya krisis ekonomi 1998. Ayah saya selalu mengajarkan bahwa disetiap krisis, separah apapun, pasti ada peluang. Itu yang terjadi di Indonesia… paling tidak yang saya lihat di depan mata.

Saya rasa, pelaku industri ritel di Indonesia tidak lah berbeda dengan para konsumen. Kita tidak terlalu peduli siapa yang akan duduk di kursi itu. Buat pelaku industri dan bisnis, kepastian hukum, stabilitas mata uang rupiah, pasokan bahan bakar yang terjamin, minta kredit dengan bunga ringan dan mengurus LC mudah last but not least, peraturan pajak yang jelas. jauh lebih penting dari siapa yang bulan Oktober jadi orang nomer satu di negeri ini dan tidak tidak terlalu pusing juga warna apa yang mendominasi kursi di gedung kura-kura itu.

Buat konsumen, terutama perempuan, ibuk-ibuk seperti saya, apalagi single mom, siapapun presiden kita, bukan masalah besar. ABC, ARB , BAB, Lalat Biru, Lalat Coklat, Tintin atau Captain Haddock pun rasanya bukan masalah ( asal bukan penjahat kelamin yang pulang studi banding bawa bini bule, istri sah langsung ditelantarkan atau boneka teddy bear )… buat kita, yang paling penting itu ( tepatnya buat saya ), yang penting harga beras dan lauk pauk, bensin, gas, murah, tarif listrik, telpon, handphone , air ringan dan transparan, uang sekolah anak-anak gratis dari SD sampai kuliah di UI ( kalau bisa …- maaf ya kalau saya bangga banget sama almamater saya, the yellow jacket ).

Penting banget buat perempuan, uang belanja dari suami bisa cukup 30 hari, karena sekarang sering dua atau tiga hari langsung ‘’ finito’’, 27 hari berikutnya banyak yang jadi jago akrobat, dari cari penghasilan tambahan dari subuh sampai tengah malam sampai yang akhirnya bisa memaksa suami jadi korupsi. Ini sering terjadi karena gaji suami tidak cukup, bukan karena tidak bisa me ‘’manage’’ , tapi karena harga barang-barang yang semakin hari semakin mahal tak terkendali begitu juga dengan uang sekolah… ini belum nyebutin godaan setan di mal loh…

Tahun 2013, saat papih Esbeyeh begitu galau berkepanjanganhendak menaikkan harga bensin, Seketika itu juga masyarakat, konsumen, serentak mengencangkan ikat pinggang, menggendalikan konsumsi. Dan seketika itu juga perusahaan mulai mengetatkan biaya promosi, karena memang konsumsi nya berkurang. Ini jelas banget saat bulan puasa, biasanya hampir setiap hari, high end brand dan high street wear gencar berpromosi dengan mengadakan off air . Biasanya saya bisa mendapatkan 3-4 undangan setiap hari dalam sebulan  untuk menghadiri acara-acara tersebut, sesekali  ngehost. Begitu papih ESBEYEH menaikkan harga bensin, langsung stop semua kegiatan promosi, bahkan sampai perusahan besar multinasional dengan nama belakang Tbk. Yang biasanya setiap puasa saya sibuk banget, tahun lalu saya praktis hanya di apartment… Tapi ada juga sih hikmahnya, saya jadi punya banyak waktu untuk menulis. Libur lebaran yang biasanya membuat Jakarta lenggang, tetap saja tuh macet, karena banyak banget orang yang tidak pulang kampung. Sejak lebaran sampai hari ini, tulisan ditulis, sangat minim kegiatan promosi off air , apalagi sejak kurs dollar semakin tidak bersahabat. Masyarakat memang tidak berhenti berkonsumsi , tapi dampaknya sungguh terasa. Paling tidak terasa banget waktu liburan akhir tahun, biasanya Singapuran penuh orang Indonesia yang ‘’pindah tidur ‘’. Akibatnya memang positif sih, Bali jadi penuh banget dan macetnya semakin tidak terjelaskan.

Beruntungan saya sering berhubungan dengan pemerintah asing , sehingga saya bisa melihat negeri yang saya cintai ini dari luar. Melihat dari luar jelas berbeda dengan melihat dari dalam. Di luar, Indonesia adalah negeri yang ‘’juicy ‘’ banget buat para pelaku bisnis. 260 juta rakyat Indonesia adalah pasar yang sungguh menggoda dan tidak boleh terlewatkan. Harus digarap dengan sangat serius. Ada beberapa brand dan asosiasi sempat menghubungi saya untuk berkonsultasi bagaimana cara masuk ke Indonesia dan diterima bangsa Indonesia, karena sudah bukan rahasia umum lagi di dunia bisnis internasional, prilaku konsumen Indonesia yang heterogen sungguh unik dan perlu digarap serius. Jika dianggap kalangan menengah ke atas, Grade A- sampai A+Indonesia 10 % dari total penduduk, angka itu sudah lebih besar dari penduduk tetangga-tetangga kita. Itu baru bicara yang grade A loh, belum bicara grade B yang kelakuannya lebih hedonis dan lebih konsumtif daripada yang grade A. Mereka pangsa pasar yang pantang dilewatkan.

Terlihat sekali, tahun 2013, mereka sudah ingin langsungmenyerbu Indonesia tapi masih agak cemas karena tahun 2014 , tahun politik. Mereka lalu pasang posisi ‘’wait & see’’ sambil bersiap-siap terutama urusan legal,karena buat mereka perlindungan hukum itu penting. Karakter orang Indonesia yang dianggap ‘’manis’’ dibandingkan tetangga, membuat banyak pelaku bisnis lebih senang berbisnis dengan orang Indonesia, apalagi ada anggapan ‘’semua bisa diatur dan dibeli dengan murah di Indonesia ( termasuk ‘’kepala orang ‘’ dan harga diri )’’. Gejolak politik di Indonesia juga masih tergolong aman dan riaknya tidak mengkhawatirkan seperti yang terjadi di negara-negara lain. Demo adalah hal yang biasa di sini dan tidak anarkis. Upah buruh masih termasuk murah dan gebrakan KPK sudah terlihat berdampak mengurangi biaya siluman yang tidak jelas hitungannya. Semua itu membuat mereka semakin mantap masuk ke Indonesia sebagai tempat produksi atau sebagai pasar.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, ‘’asing yang bukan aseng ‘’ ( istilah orang bursa saham ) , memantau Indonesia 24 jam sehari secara intensif dan situasi politik kita dinilai sangat kondusif dan riset juga membuktikan bahwa kekuatan pasar Indonesia , dari kelas D sampai kelas A ++, tidak akan berpengaruh banyak terhadap siapa yang akan jadi presiden atau warna apa yang akan berkuasa di negeri ini walau sampai hari ini masih terlihat drama-drama yang lebih lucu dari sitcom manapun. Diam-diam mereka sekarang sudah mulai menaruh sebelah kaki di Indonesia, bersiap membuat gebrakan pasca pemilu, bahkan beberapa sudah mulai duluan mencuri ‘’start ‘’ lebih awal bahkan ada yang sudah terang-terangan beriklan habis-habisan, seakan sudah tidak sabar menunggu pertarungan Gajah lawan Gajah selesai.

Jadi jangan heran ya jika nanti ( atau malah sudah ), akan semakin banyak butik , resto dan café franchise , show room mobil buka. Sebentar lagi bisnis ritel kita bisa lebih heboh dari Singapura, Malaysia bahkan Australia, karena secara jumlah kita jauh lebih banyak dan secara kultur kita jauh lebih konsumtif.

Sekarang tinggal tergantung kesiapan pemerintah untuk memberi payung hukum bagi pelaku bisnis yang masuk ke Indonesia, pelaku bisnis lokal,dan juga payung hukum perlindungan konsumen. Harus disikapi juga bahwa harus ada situasi win-win buat semua pihak, artinya kita jangan mau hanya dijadikan target pasar. Paksa mereka berproduksi di Indonesia, supaya bukan hanya profitnya saja yang dibawa balik ke negara mereka, tetapi juga harus bisa mendatangkan manfaat seperti membuka lapangan kerja baru , berinvestasi membuka pabrik dan juga transfer ilmu dan teknologi. Sudah cukup rasanya kita kecolongan kasus Blackberry, di mana Indonesia sebagai pemakai Blackberry terbanyak, hanya dijadikan pasar , profitnya dibawa balik ke negara asal tapi yang menikmati investasi dan transfer teknologinya negara tetangga kita itu. Maaf ya, kalau yang ini, menurut saya , pemerintah salah besar. Mestinya pemerintah berani mengambil ‘’action’’ karena bargaining position kita kuat sekali.Presiden yang baru harus bisa dong memaksa Samsung, Nokia , Lenovo, Sony, dll membuka pabrik di Indonesia bukan saja untuk memenuhi pasar Indonesia, tapi juga pasar dunia.

Sekarang tinggal kita tunggu… apa yang terjadi pasca pemilu legislatif dan pilpres… siapapun presidennya, warnanya, pastinya dunia ritel Indonesia pasti jadi semakin meriah dan mudah-mudahan mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan buat bangsa ini.

Love

Miss Jinjing.

Tulisan ini ditulis untuk Koran Sindo 28 Maret 2014

Kamis, Maret 27, 2014

MENJUAL WISATA BELANJA JAKARTA

Setelah beberapa kali dipercaya pemerintah asing untuk ‘’ menjual ‘’ negara orang, wajar dong kalau saya justru bercita-cita bisa menjual negeri sendiri, karena pada dasarnya saya Indonesia banget dan cinta Indonesia banget. Saya bangga banget lahir, besar dan kuliah di Jakarta, Indonesia dan bersekolah di sekolah negeri. Hasilnya okeh juga kan… Tidak kalah dengan yang lulusan bergengsi dari luar negeri dan menghabiskan uang orang tua milyaran rupiah. Menjual negeri sendiri adalah impian terbesar saya yang ternyata jauh lebih sulit daripada menjual negara orang. Makanya ketika mendapat kesempatan berdiskusi dengan Dinas Pariwisata Pemda DKI Jakarta, wahhh senangnya luar biasa. Saya tidak sabar ingin bisa ikut berkontribusi dengan Pemda DKI Jakarta untuk memajukan wisata belanja.

Bicara jualan wisata di Jakarta, artinya harus bicara wisata belanja, karena wisata di Jakarta tidak banyak pilihan… hanya sedikit wisata alam, minim banget monumen bersejarah atau situs bersejarah, museumnya banyak yang kurang terawat dan tidak berstandar internasional, minim taman-taman cantik buat jogging di pagi hari, duduk-duduk cantik dan photo-photo cantik. Jadi mau tidak mau, yang harus dimaksimalkan, adalah wisata belanjanya. Wisata belanja itu wajib dikembangkan secara serius, dan ini sudah amat sangat disadari tourism-tourism asing.

Wisata belanja diharapkan dapat memaksimalkan pengeluaran uang saat wisatawan berkunjung ke negara kita, karena bukan rahasia lagi, dalam sebuah liburan, komposisi biaya perjalanan dan akomodasi hanyalah sebagian kecil persentase dalam keseluruhan pengeluaran… yang parah itu , biaya kenakalan, seperti biaya shopping, biaya duduk-duduk cantik atau entertainment lainnya. Jadi mau tidak mau harus dibuat, bagaimana caranya mereka harus ‘’membuang’’ uang sebanyak-banyaknya ( dalam dollar, euro, dll ) di negara kita… Gantian dong, selama ini kan kita yang digoda habis-habisan untuk menghabiskan uang , shopping di berbagai negara. Untuk urusan itu, serahkan sama Miss Jinjing,’’ mission always accomplished , hehehehe…’’  ( kidding !!! )

Bicara wisata belanja, harus dilihat dulu targetnya, karena ada target yang berbeda, wisatawan lokal dan wisatawan asing. Mereka berbeda selera, berbeda gaya walaupun dua-duanya punya buying power yang luar biasa. Jangan pernah menganggap remeh wisatawan lokal, karena mereka punya buying power yang luar biasa, ‘’real people with real money’’, dan mereka sangat impulsive dan konsumtif… kalah deh pokoknya bule. Wisatawan lokal masih tertarik dengan hedonisme, Mall-Mall mewah, Café berlabel asing, Butik-butik high end… tapi tidak dengan wisatawan asing. Mall-mall asing tidak lagi mampu menggoda mereka untuk berkunjung, karena di negaranya ada yang jauh lebih mewah, lebih besar, lebih murah.dan pilihan yang lebih banyak.  Jadi jika kita mau ‘’campaign’’ wisata belanja Jakarta di dalam negeri, jelas harus berbeda dengan ‘’campaign’’ di luar negeri.

Ayo bicara wisata belanja di Jakarta ( ps: semoga ini dibaca Bapak Jokowi & Bapak Ahok… pengen banget shopping bareng Bapak Jokowi dan Bapak Ahok, ‘’Shopping is the very best therapy J’’ . Kalau saya lagi bête banget sama pacar saya, cara menghibur hati saya hanya satu, bawa deh jalan-jalan ke toko ‘’ mainan ‘’ kesayangan saya, dijamin saya pasti lupa, waktu berangkat saya bête sebete-betenya sama dia.

Jika mau menjual wisata belanja Jakarta, adalah tidak bijak jika kita menjual hanya mall-mall mewah super gigantis.. Karena kita tidak bakalan bisa berkompetisi dengan Dubai, Bangkok, Shanghai dll. Begitu juga dengan jualan butik-butik high end… susah banget kita berkompetisi dengan Hongkong, Malaysia, Singapura, selain lebih banyak brand, juga barangnya lebih baru, karena perputaran nya lebih cepat. Memang sih, beberapa brand, harganya sudah lebih murah atau sama dengan Jakarta, tapi tetap perputaran barangnya di sini tidak secepat di negara tetangga. Berkompetisi dengan negara tetangga saja susah, apalagi jika sudah bersinggungan dengan taman bermain yang menjadi impian semua perempuan cantik, seperti Paris dan Milan. Jika memaksakan diri, yang ada kita bakal diketawain orang dan apapun format iklannya—untuk bisa berkompetisi--, akan jadi basi.

Tidak pernah ada salahnya belajar dari negara-negara lain, kalau memang baik adanya dan ada nilai kearifan lokal yang bisa dipelajari. Setelah menulis beberapa buku Miss Jinjing dalam dua tahun belakangan ini, saya melihat ada kecenderungan mengembalikan wajah asli sebuah bangsa dalam menjual industri pariwisata. Bangsa-bangsa seperti Perancis, Italia, Spanyol, Jepang, Korea bahkan Thailand, mereka tidak lagi menjual modernitas, malah sibuk mengembalikan  atau me ‘’repackaging’’ spot – spot asli, terutama spot yang menggambarkan wajah asli sebuah bangsa, PASAR. Jika kita hendak melihat wajah asli sebuah bangsa, lihat lah pasar tradisionalnya. Makanya tidak lah mengherankan, sekarang, Spanyol, Perancis,Italia, Jepang, Korea dengan berbangga hati sibuk membenahi pasar tradisionalnya.

Spanyol begitu bangga dengan pasar La Mercado De Boqueria di Barcelona yang super duper terkenal dikalangan artis Hollywood dan minum bir sambil menikmati brunch di bar yang ada di pasar ini sepertinya jadi kunjungan wajib. Paris begitu bangga dengan pasar loaknya yang begitu mendunia. Les Puces St Ouen, bukan pasar loak sembarangan dan bukan juga sekadar pasar barang rombengan, tapi buat saya mirip museum raksasa, yang penuh barang-barang dengan kualitas nyaris seperti koleksi museum. Ssstt.. ada toko vintage barang-barang high end brand juga loh, kesayangan saya. Tempat ini ajib gila amat sangadddhhhh…

Jepang… selama berpuluh tahun, pasar ikannya yang legendaris , Tsukiji benar-benar komoditi andalan Tokyo dalam menjual pariwisatanya. Rasanya belum ke Tokyo kalau belum mampir ke Tsukiji untuk melihat hingar bingar pasar dan lelang ikan terbesar di dunia ini ( walau rela harus bangun pagi saat subuh ) , dilanjutkan dengan menikmati sarapan sushi dan sashimi super segar di warung-warung kecil yang ada di sana. Juara banget dehh.. Pengalaman ini tidak akan pernah ada dibelahan dunia manapun selain di Tokyo.

Belum lama ini, saya sering bolak-balik Jakarta – Bangkok untuk menulis buku Miss Jinjing Bangkok. Sumpah mati saya terkagum – kagum sama pasar bunga terindah di dunia, Pak Khlong Talad. Pasar yang buka 24 jam  per hari ini sungguh eksotis di mata saya. Waktu terbaik menikmati pasar ini, adalah tengah malam, saat truk-truk berhenti, menurunkan bunga-bunga segar dari berbagai daerah di Thailand. Pemandangan ibu-ibu meronce bunga-bunga indah untuk keperluan ritual, sungguh eksotis dan sepertinya hanya ada di sini. Berada di sini rasanya seperti berada di ‘’dunia lain’’, harum semerbak bunga-bunga di sini dan serunya berpetualangan ( girls adventure ) tak ada duanya.

Masih di Bangkok,tanpa sengaja, jam tujuh pagi, akibat salah komunikasi dengan supir taksi, saya akhirnya nemu tempat, Soi Vanit. Sekilas tempat ini mirip Asemka di Jakarta dalam versi yang lebih massive dan lebih ‘’padat penduduk’’. Gang-gang super sempit, ‘’kerusuhan’’ orang, gerobak, kuli panggul lalu lalang dan kehebohan tempat ini membuat pasar ini, ‘’Bangkok’’ banget... Barang-barang di pasar grosir ini, asli murah amat sangaddhhh... dari yang murahan sampai yang benar-benar bagus ada dalam harga yang sangat terjangkau, bahkan kelewat murah jika di kurs ke dalam USD apalagi EURO. Di daerah yang ‘’rusuh’’ banget ini, banyak banget turis bule yang kalap berbelanja dan tangan kanan-kirinya penuh gembolan kresek. Miss Kresek sepertinya julukan yang cocok buat mereka. Saya betah banget berjam-jam bermain di taman bermain yang satu ini bersama asisten saya, Ms. Ayu Ting Tong. Dia sering mengingatkan saya jika saya tidak ingat waktu di tempat ini.

Pemerintah Thailand, begitu bangga dengan Amarin Plaza, pusat penjualan Thai Silk.  Amarin Plaza lebih kecil dibanding pasar tekstil di Cipadu atau di Mayestik, wah kalah lah dan jenis tekstil yang ditawarkan di Cipadu dan di Mayestik jauh lebih beragam… tapi saya iri banget, karena Amarin Plaza benar-benar di support dan dipromosikan habis-habisan oleh Pemerintah Thailand. 

 Sebenarnya Jakarta punya sejumlah aset shopping spot yang tak kalah dengan yang dibanggakan negara-negara yang sudah saya sebutkan. You name it, semua yang mereka punya, kita punya tidak kalah seru dan tidak kalah heboh... hanya mungkin, yang kita punya tidak berkualifikasi internasional dan tidak ‘’tourist friendly’’. Jika ada niat serius, rasanya tidak sulit untuk ‘’repackaging’’ dan ‘’retouch’’ aset-aset yang kita miliki. Pasar Tekstil Mayestik, rasanya yang terbaik di Asia… believe me…Tidak lupa juga sama pasar tekstil Cipadu, Tangerang, Pasar bunga di Rawa Belong, Pasar Batu di Rawa Bening, Pasar Antik Jl. Surabaya, Pasar Baru, Asemka, Pasar Loak Taman Puring, Pasar Induk Kramat Jati, Pasar Ular, Pasar Burung Barito dan Pramuka, dll.

Saya sempat ditanya, apakah konsep ini tidak dianggap menjual kemiskinan atau kekumuhan sebuah kota atau bangsa ? Buat saya tidak… kita tidak berusaha menjual kemiskinan dan kekumuhan. Kita menjual wajah asli bangsa kita, identitas kita. Bangsa lain setengah mati loh, mencari identitas yang tepat buat bangsanya, seperti, tetangga-tetangga dekat kita sampai akhirnya niat banget nyolong identitas bangsa lain. Kita tidak perlu malu, yang perlu dilakukan adalah me’’retouch’’, me’’repackaging’’ tempat-tempat yang sudah cantik ini menjadi lebih cantik lagi. Pekerjaan ini tidak lah menjadi tanggung jawab Pemda DKI Jakarta, tapi juga seluruh penduduk dan pelaku dunia usaha di Jakarta.

 Saya pengen banget, mimpi saya, suatu hari nanti, artis Hollywood liburan di Jakarta, jalan-jalan pakai hotpants, tank top, sling back, oversized sunglasses, belanja ( heboh ) kain di Mayestik dilanjut makan bakmi boy ( kesayangan saya ) sambil duduk-duduk minum bir pletok dan makan kue apem atau kue putu, trus ada di majalah-majalah seperti Bazaar, Vogue, buku travel dunia seperti Fodors dan Frommers, dan TV internasional. Memang kalau urusan berkhayal, saya jago banget deh dari kecil, hehehehe…

Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi ?

Tulisan ini ditulis untuk Bapak Jokowi dan Bapak Ahok. Ditunggu Miss Jinjing, shopping dan makan bakmi boy bareng di Mayestik.

 Love

 Miss Jinjing. 

Tulisan ini ditulis untuk Koran Sindo 20-3-2014

Rabu, Maret 19, 2014

KEMANA BELANJA KELAS MENENGAH INDONESIA

Satu hal yang menarik sekali dari adanya pertumbuhan kelas menengah Indonesia yang cukup mencengangkan.. menimbulkan pertanyaan besar pada diri saya.. kemana belanja kelas menengah kita ? terutama golongan masyarakat kelas menengah yang baru saja memasuki kelas menengah Indonesia.

Sebelum bisa mengetahui kemana larinya belanja kelas menengah Indonesia, kita perlu tahu, kebutuhan dan keinginan kelas menengah Indonesia. Ingat loh… kebutuhan beda banget dengan keinginan atau mungkin lebih tepat disebut ‘’nafsu’’?

Kebutuhan orang kaya lama, jelas berbeda dengan kebutuhan orang kaya baru. Yang sederhananya nih, orang kaya lama, tidak butuh pengakuan orang lain untuk disebut atau dianggap sebagai orang kaya. Orang kaya lama tidak butuh dilihat terlihat kaya oleh orang lain. Orang kaya lama tidak butuh kenyamanan berlebihan karena memang dari lahir sudah nyaman. Orang kaya lama tidak butuh terlihat hadir di setiap acara – acara yang dianggap bergengsi, karena pada hakikatnya, kehadirannya adalah gengsi dari acara itu sendiri.
Beda banget kan sama orang kaya baru – saya sering menyebutnya ‘’OKABEH’’… dua golongan ini jelas berbeda sekali kan kebutuhannya, keinginanannya dan juga tak ketinggalan seleranya. Kebutuhan boleh bertambah, keinginan boleh semakin menggebu , mengganas bak ikan piranha betina yang belum makan berhari-hari… tapi rasanya selera‘’katro’’ alias selera kampung masih sulit dilupakan. Ini yang selamanya membedakan OKABEH dan orang yang dari lahir sudah hidup senang ( kita sebut saja Richie Rich )
Hal-hal yang seperti ini yang membuat adanya perbedaan yang signifikan kebutuhan OKABEH dengan orang yang dari Richie Rich.

Okabeh, perlu banget memperjelas eksistensinya… jelas sejelas-jelasnya. Makanya mereka ada di semua social media yang lagi hits… panik kalau tidak update status dan posisi lagi mangkal di tempat elit. Richie Rich , dengan alasan keamanan, justru enggan diketahui keberadaannya. Makanya tidak heran, smartphone laku keras, lebih laku dari kacang goreng di pasar. Semakin mahal, semakin diburu, meski fungsinya tidaklah selalu dapat digunakan maksimal. Hal ini membuat Blackberry paling laris di Indonesia , begitu juga dengan Samsung. Sayangnya, meski kita pengguna Blackberry terbesar di dunia, pemerintah tidak berhasil memaksa RIM membuka pabrik di Indonesia… akhirnya yang menikmati, negara tetangga kita yang ‘’malay’’ banget itu kan….
Terlihat di tempat yang katanya ‘’elit’’ itu penting buat OKABEH. Makanya tidak usah heran ya , jika semakin hari, semakin banyak cafe atau restaurant mahal , baik lokal maupun franchise yang selangit dan tidak masuk akal. Tidak usah heran kalau tempat ini justru selalu penuh sesak pengunjung karena berada di tempat ini sangat prestisius untuk dipajang di sosial media. Demi eksistensi, harga Rp. 100.000 buat semangkok sop buntut atau Rp. 50.000 se iris cake, bukan lah masalah. Terlihat antri di tempat ini juga tidak masalah buat Okabeh, karena bangga banget mereka terlihat antri…  langsung deh selfie dan upload di Instagram. Beda banget buat kaum Richie Rich… kualitas, kenyamanan dan kelezatan di atas segalanya, bukan di mana… Di restaurant ternama, mereka tidak pernah terlihat antri karena biasanya selalu ada tempat khusus tersedia untuk mereka.

Branded Bags, adalah simbol status sosial yang sensitive buat kaum hawa. Makanya tidak usah heran banyak perempuan okabeh yang berburu tas bermerek demi mengangkat status sosialnya. Gengsi banget kalau tidak menjinjing tas bermerek saat jalan bareng teman-teman di mall, arisan di kafe yang lagi hits.. atau di fashion week. Segala daya upaya dikerahkan demi dapat terlihat menjinjing tas yang katanya simbol kemakmuran tertinggi di muka bumi ini...  Mulai dari , maksain diri beli kawe kesekian, cicilan berkali-kali, nyewa tas, pinjam meminjam sama teman sampai ( maaf ya ), ‘’mecun’’ hanya untuk sebuah tas... Semua itu tambah panas akibat tv-tv yang sering menayangkan ‘’ skuter ‘’ , a.k.a artis kurang terkenal... yang maksain diri  ‘’desperate ‘’ banget menaikkan status sosial bukan dengan prestasi, tapi dengan memajang maha koleksinya yang dari kulit kambing sampai kulit buaya yang katanya dari himalaya..padahal rasanya banyak banget yang tahu kalau bapaknya hanyalah tukang bakmi di sampit sana.... sungguh menyedihkan... Saya tidak menyalahkan si artis yang okabeh, saya menyalahkan stasiun tv nya yang telah menempatkan hedonisme di tempat yang tidak sebagaimana mestinya. Sama salahnya seperti yang terlihat di Instagram,  Okabeh sering meletakkan tas berharga ratusan jutanya di lantai dan sepatu paku-paku bersol merahnya di atas meja, hihihihi... Dunia memang sudah terbalik ya...

Holiday alias liburan, adalah hal yang baru buat para okabeh banget... buat mereka, liburan ke luar negeri adalah sesuatu yang baru mewabah. Banyak dari mereka pergi berlibur ke luar negeri tanpa mengerti bagaimana menikmati liburan dan bersikap saat liburan. Adalah pemandangan yang biasa saya lihat di sosial media, liburan di Korea atau di Paris, saat musim panas dan dengan matahari super duper terik, ehhhh photo narsis pakai coat bulu-bulu dan sepatu boot selutut... Oh no…. hareudang atuhhh.... Sering salah kostum adalah salah satu ciri-ciri Okabeh. Makanya tidak mengherankan kalau angka penjualan di butik Zara di Indonesia sungguh spektakuler… padahal tidak ada musim dingin di negeri kita. Jadi tidak usah juga terheran ( tapi sangat manusiawi jika anda tidak bisa mengontrol mulut anda untuk tidak berkomentar sadis)  jika ada penyanyi yang selalu merasa dirinya cetar membahana, diwawancara di tv studio mengenakan coat super tebal lengkap dengan boots bulu-bulu.

Up grade gaya hidup adalah salah satu prioritas kaum okabeh Indonesia. Makanya tidak usah heran, jika event-event bergengsi seperti Java Jazz selalu penuh sesak pengunjung yang sesungguhnya mereka bukan penikmat Jazz… apalagi jika ditanya pengetahuan tentang musik Jazz, wah, ‘’blank’’ banget. Lebih parahnya lagi waktu Fashion Week. Sepertinya hadir di event ini , harus banget. Maksa banget deh supaya bisa duduk ‘’Front Row’’ dengan dandanan yang lebih heboh dari modelnya dan yang punya hajatan. Belum lama ini, saya lihat dengan mata kepala sendiri, di sebuah fashion show, beberapa orang sengaja memindahkan nama yang sudah diletakkan di kursi front row, kebetulan saya kenal sama nama yang dipindahkan itu… duhhh segitunya ya demi sebuah kursi di front row. Dan Akhirnya teman saya ini duduk sebaris dengan saya tanpa dia pernah tahu apa yang terjadi dengan kursinya… dan dia tetap ‘’ happy-happy ‘’ saja. Grup maling tadi,seperti biasa OKABEH yang norak, sibuk selfie gak jelas berasa selebritas sambil ketawa-ketiwi.

Jadi , jika anda pengusaha dan ingin membidik kelas menengah baru Indonesia sebagai target market anda, pastikan anda sangat mengerti kebutuhan, nafsu dan selera  mereka, dijamin deh, usaha anda akan berhasil dan mendatangkan profit yang luar biasa. Begitu juga jika anda ingin membidik Richie Rich… Eksistensi adalah kunci buat para Okabeh dan Kualitas hidup terbaik adalah kunci buat para Richie Rich.

Welcome to the club…

Love

Miss Jinjing 

tulisan ini ditulis untuk koran sindo, 14 Maret 2014

Selasa, Maret 11, 2014

SHOPPING… USD, EURO, YUAN & BAHT… GAK KUAT !!!

Sejujurnya, saya bukan pakar keuangan yang bisa menjelaskan gejolak kurs mata uang rupiah yang sungguh sangat tidak sopan… bahkan liar terhadap mata uang asing. Saya dan juga jutaan perempuan Indonesia, tidak tahu menahu dan juga tidak pusing dengan defisit neraca perdagangan Republik Indonesia dengan negara lain yang katanya biang kerok dari permasalahan ini. Yang saya tahu, gejolak ini sungguh mengganggu kita semua, karena semua harga-harga jadi tidak terkendali kenaikannya. Bisa naik, tidak bisa turun, kalau rupiahnya turun, pedagang dan importir yang jahat itu, tidak bakalan juga menurunkan harga barangnya. Selain urusan kenaikan harga barang yang berarti kita harus mengendalikan diri dari nafsu berkonsumsi yang akut ( blame it on the jinjing’s DNA ! ) , kita juga jadi harus mengendalikan diri untuk tidak berlibur di negara-negara kesayangan perempuan-perempuan cantik seperti kita.

Untuk sementara, forget about Paris, Milan, dan playground lainnya yang ada di muka bumi ini. Sementara itu representasi dari ketidakpastian, a.k.a uncertainty. Ada pepatah, The certainty is the uncertainty itself… Wahh gawat nih, berarti tidak ada satupun dari kita yang bisa memastikan, kapan gejolak ini akan berakhir dan kita menjadi begitu biasa dengan semua ketidakpastian dan ketidakstabilan di negeri ini. Saya rasa, ini bukan hal yang baru buat bangsa ini. 

Nih, coba deh bayangkan…

Tahun 2009 saat saya menulis buku Miss Jinjing Belanja Sampai Mati di China,1 Yuan = Rp. 1.200 rupiah… sekarang ? sungguh sangat tidak sopan !!! Sekarang , 2014, 1 yuan = Rp. 1900 – an… malah sempat 2000 an… uhhhh… Guangzhou dan Beijing jadi tidak menarik dan tidak lucu lagi buat shopping, semua jadi terasa mahal dan tidak ada lagi euphoria shopping di China. Dulu, uang Rp. 10.000.000 bisa enggak habis – habis di Guangzhou, sekarang, gampang banget menghabiskannya…Huffffttt…. Bendera putihhhh…. Bye-bye Panda judulnya…  

Tahun 2012 saat saya menulis buku Miss Jinjing Korea… 1 Won = Rp. 7 , sekarang… Tarik nafas yang panjang , Sekarang 1 Won = Rp. 12 .... kosmetik korea yang ajibbb itcuh, jadi terasa mahal banget... apalagi kalau filler dan stemcell yang lagi top abis... wah, gak sanggup mikir deh... Untungnya saya belum bersahabat karib dengan dokter dan klinik bedah plastik di Korea, kalau enggak ? wahhh bisa lumer muka saya....

Akhir 2012 saat saya menulis buku Miss Jinjing Paris.... 1 Euro, Rp. 12.150… masih kebeli lah ( dengan hati gembira, tas LV, lucu-lucuan di Hermes, lipstick Chanel kesayangan saya !!! )… sekarang 1 Euro nyaris Rp. 16.000,-semua ‘’ lucu-lucuan ‘’ itu jadi tidak terbeli dan yang mencemaskan… semua kosmetik saya, sama-sama habis di waktu yang bersamaan… pengen nangis sambil ngais-ngais aspal…Lipstick Chanel harus diganti dengan Sari Ayu, Eye Shadow Shu Uemura harus diganti La Tulip dan Pensil Alis Dior harus diganti Viva… Untung Produk Indonesia sudah top markotop yak… kalau enggak , wah gawats !!!!...

Sekarang saya sudah bye-bye Paris, Milan dan Barcelona dan untuk sementara lagi ‘’musuhan’’ sama Hermes, Balenciaga, Goyard, Loewe dan sodara-sodaranya. Tawaran tiket murah bahkan gratis yang datang silih berganti, tidak sanggup menggoda saya, karena pada hakikatnya, tiket pesawat itu tidak lah terlalu mahal, yang tidak dapat ditolerir itu, biaya kenakalan, bukan ? Daripada tidak bisa shopping, lebih baik tiarap di rumah kan , sambil memelas memandang buku tabungan yang sudah menipis dan tidak berarti jika dikonversi ke USD, apalagi ke Euro…

Tuhan itu baik banget sama saya. Saya sudah diizinkan menyelesaikan Miss Jinjing Paris, Milan, Barcelona & Madrid dan Turkey, tepat pada waktunya, sebelum rupiah rock and roll!!! … Memang sih ada yang ketinggalan, saya belum sempat mewujudkan Miss Jinjing London dan Miss Jinjing New York , tapi buat saya itu bukan masalah besar, karena Paris & Milan, Every girls dream, sudah terbit dan pastinya hits dong !!!
Eitsss… bukan perempuan Indonesia dengan Jinjing DNA kalau belum menemukan ‘’taman bermain’’ baru… Pernah dengan pepatah ‘’there is always reason to shop’’ ? and it’s so true.

Setelah Guangzhou jadi tidak menarik lagi, diam-diam Bangkok, Thailand menjadi Taman Bermain yang seru banget. Kondisi politik dan budaya yang mirip dengan Indonesia, membuat Bangkok jadi begitu ‘’ familiar ‘’ buat orang Indonesia yang sudah terkenal degan gaya nya yang khas saat berlibur. Pergerakan Bath terhadap rupiah , tidak lah seliar Euro, USD, Yuan dan Won. Memang ada sedikit kenaikan, tapi tidak terlalu signifikan, jadi walaupun sempat naik 1Baht = Rp.400,- , semua masih terasa murah di sana, paling tidak terasa lebih murah dibanding di Jakarta.

Produktifitas yang tinggi dan upah buruh yang relatif murah, membuat harga-harga barang‘’Made in Thailand’’ sangat bersahabat , seleranya cocok dengan selera orang Indonesia dan standard ukuran yang Indonesia banget, membuat Bangkok terasa begitu nyaman dan menyenangkan buat orang Indonesia yang terkenal suka shopping… saking terkenalnya, banyak penjaga toko di MBK yang merayu orang Indonesia dalam Bahasa Indonesia, penjaga toko di Platinum bisa menyapa saya dengan keramahan yang luar biasa dalam bahasa Indonesia yang patah-patah. Saking murahnya, orang Indonesia tidak terlalu pusing walau dihimbau Thailand lagi kerusuhan ( bukankah buat kita, rusuh itu biasa ? kerusuhan yang terjadi di sana, tidak ada apa-apanya dengan yang pernah terjadi di Indonesia.) atau Bangkok lagi ’shutdown’’ , who cares ? yang penting asik banget buat shopping. Pertanyaannya bukan Bangkok sudah aman atau belum ? Pertanyaannya, MBK dan Platinum buka gak ? Itu Endonezzzaahhh banget.

Sewaktu Rupiah masih stabil di level 9000an, setiap weekend, Singapore dan KL, penuh dengan orang Indonesia yang berlibur di sana, dari sekedar ngupi-ngupi sambil pakai sandal jepit dan celana pendek, berobat ‘’ecek-ecek’’ sampai yang sudah stadium 4 akut, sampai yang khusus berkunjung ke perusahaan asset management buat menyembunyikan hasil korupsi.

Liburan akhir tahun,Sing dan KL lebih sepi dari biasanya, begitu juga saat weekend dan hari kejepit… Dollar Sing yang mahal banget, membuat ngupi di Sing jadi tidak asik lagi dan general check up di Penang jadi tidak murah-murah amat… Barang-barang high end branddi Sing sekarang jadi lebih mahal dari di Jakarta. Event sale – sale tahunan yang selama ini super hitzz jadi tidak lagi sanggup menggoda The Girls with the Jinjing’s DNA.
Sekarang yang jadi pertanyaan buat kita ? apakah ini semua bisa memaksa orang Indonesia untuk mengendalikan diri dalam berkonsumsi ? Saya rasa jawabannya belum tentu ! Jawabannya, karena orang Indonesia sudah terlalu terbiasa dengan ketidakstabilan, ketidakpastian… last but not least, there is always reason to shop.

Happy Shopping with Miss Jinjing

Xxx

Miss Jinjing

TULISAN INI UNTUK KORAN SINDO 7-3-2014

Jumat, Februari 21, 2014

THE PLACE WE WILL VISIT IN BANGKOK - MISS JINJING BANGKOK SHOPPING TRIP 2014

Dear Darla..

with 2 Lucky Miss Jinjing Bangkok Loyal Readers... 

Denita & Nebula...

I want to bring you to... 

The most beautiful house in Bangkok, Jim Thompson House 


The truly unique Siam Center, 


The most mesmerizing Siam Paragon




When the night is never and at Asiatique



Floating Market Damnoen Saduak 




Must Visit - High Tea and Photo Session@ the legendary Mandarin Oriental 



Where the fairy tale exists Grand Palace 



Secret Shopping Spots Soi Vanit ( S )



and many others beautiful places and shopping secret spots in Bangkok .... 

Dont miss it...

For Join pls call ayu 083870076532

love 

Miss Jinjing

Senin, Februari 17, 2014

18 MISS JINJING BANGKOK LOYAL READERS FOR SUNGLASSES BOXES

hi semua... mohon maaf kalau ini terlambat ya... 

18 MJ BANGKOK LOYAL READERS for SUNGLASSES BOXES

Tiurmaida Rafica Purba
Fiona Amanda Sari 
Triastuty Retno Sari
Henny Mewaningsih
Irwan Wijaya
Arini Nizya
Silverita Tioria Rezeki Sinaga
yenny kushendrawati
irhamna
GoldaMarintan
Valensia Gowanda
Imelda Christie
Sri wulan budiarti
Astety Yulianing
Maya Susliawathy
Yunita Davids
Septi Mulian Nainggolan 
Fitrie Handayani

Hadiah akan dikirim berbarengan pengiriman miss jinjing bangkok 18 April 2014

ditunggu yaaaa

ikutan ya 2nd round grand prize ( MISS JINJING BANGKOK SHOPPING TRIP ) for 2 mj bkk loyal readers ( pengumuman april 18 dan april 28 )

Miss Jinjing Bangkok 160 rb transf ke bca.1191509558 / mandiri 1100004473911 amelia masniari.

convo ke ameliamasniari@yahoo.co.id , harus ikutan ya !

xxx

Miss Jinjing

Kamis, Februari 13, 2014

MISS JINJING BANGKOK SHOPPING TRIP 27-30 MARET 2014

ittinerary : 

MISS JINJING BANGKOK SHOPPING TOUR
USD 550 ( twin sharing )+ high tea mandarin oriental USD 65 ( optional ) USD 650 ( single ) + high tea mandarin oriental USD 65 ( optional )
Pendaftaran selambat-lambatnya March 20 th 2014 / jika peserta sudah melebihi kapasitas
Payment Cash in advance ( berdasarkan rate yang berlaku di hari pembayaran atau USD )
Flight Carrier : Thai Lion Air
Ittinerary
Ket: S= Shopping, P= Photo Session, T=Tour, C= Culinary Adventure B= Breakfast, L=Lunch , D=Dinner
1st Day ( kamis 27 )
06.20 Terbang dari Jakarta 10.00 Tiba di Bangkok 12.00 Check in di Mandarin Hotel ( http://www.mandarin-bkk.com/ ) 13.00 Lunch Time at Samchuri 15.00 Visit Jim Thompson House ( S ) 17.00 Shopping at MBK , Siam Center, Siam Paragon ( S ) 20.00 Shopping and Dinner at Asiatique
2nd Day ( Jumat 28 ) 7.30 Tour Floating Market Damnoen Saduak ( 2,5 Hours from Bangkok ) ( T ) 13.30 Back To Bangkok 14.00 High Tea and Photo Session@ Mandarin Oriental ( P ) 16.30 Shopping Session at Pratunam & Platinum ( S ) 20.30 The most beautiful Market in the world Pak Khlong Talad ( P )
3rd Day ( D ) ( Sabtu 29 ) 7.30 Breakfast at Subway 8.30 Grand Palace ( T ) 11.00 Soi Vanit ( S ) 13.30 Lunch at Amani 14.30 Shopping at Amani – Erawan – Graysorn – Central World ( S ) & Visit Erawan Shrine ( T ) 20.00 Culinary Adventure – Saphan ( C )
4th Day ( B ) ( Minggu 30 ) 8.30 Lumphini Park 12.00 Check Out 13.00 Chatucak 16.30 Bandara Don Mueang back to Jakarta
Biaya tidak termasuk :
1. Biaya Airport Tax dan biaya-biaya tax lainnya jika ada 2. Biaya Makan yang tidak disebutkan dalam itinerary 3. Biaya Laundry, Tip, dll. 4. Biaya Entertainment ( yang tidak ada di dalam Itinerary )
Itinerary bisa berubah sewaktu-waktu dan menjadi keputusan Miss Jinjing Hotel , Maskapai Penerbangan dan jadwal penerbangan bisa berubah sewaktu-waktu dan menjadi keputusan Miss Jinjing Pembatalan sepihak , biaya tidak dapat dikembalikan 100 % Photo dan cerita menjadi hak ekslusif Miss Jinjing untuk cerita Miss Jinjing Bangkok
For info, Call ayu 083870076532 Email ameliamasniari@yahoo.co.id
untuk pembayaran pls call ayu ya
083870076532