Jumat, November 03, 2006

Susahnya Jadi Orang Gendut



It's just an excuse... Sejak punya tiga anak laki-laki, saya jadi gendut. Sebenarnya tidak gendut banget, tapi jadi ga pede dan sering dongkol akibat sering mengalami pelecehan dari para pramuniaga butik di dalam dan luar negeri.

Suatu hari saya masuk ke sebuah butik di Kelapa Gading Mall 3. Baru enak-enak dan pegang-pegang... tiba-tiba pramuniaganya bilang "maaf ya Bu,... di sini tidak ada baju ukuran ibu ". Pada hari itu mood sedang tidak baik, malah habis dia saya maki, sampai manager on duty hari itu datang minta maaf..Waktu di Grand Butik Mangga Dua... Tiba-tiba Pramuniaganya bilang begini : "Maaf ya Bu, di sini tidak ada jual baju hamil. saya langsung semprot dia dengan kata-kata mutiara. Begitu puas, balik badan deh saya.

Kesedihan itu ternyata juga didapat saat di luar negeri...Saat saya jalan-jalan sama ibu saya di frankfurt, saya jalan ke butik Tods. Saya agak mengerti bahasa Jerman dan saya mendengar seorang pramuniaga bicara dengan temannya supaya mengawasi kita, takut barangnya lecet. langsung orang itu saya semprot dalam bahasa Jerman. Mereka langsung pucat pasi sampai minta-minta maaf. Dalam Hati saya... Mampus Loe... satu sama.

Dan yang paling Gress.... saat di butik Bettu (merek Hongkong) Saya dan Novi masuk ke dalam. Tiba-tiba pramuniaga ngomong pakai bahasa cina sama Novi. Mulanya Novi senyum aja. Waktu jalan ke Section lain dia ngintilin lagi sambil ngoceh-ngoceh. Waktu saya tanya Novi, Novi cuma bilang "Udah mulai rese tuh mba. Lama-lama, novi marah pakai bahasa Cina... Saya tanya ada apa. Eh kata Novi... dia dari tadi bilang... kita tuh keras kepala banget, udah dibilangin bolak-balik ga ada ukuran, kok ga percaya...Saya dan Novi langsung cabut, dari pada berantem di negeri orang.

Selasa, Oktober 31, 2006

It's me


hi....nama saya Amy. Saya seorang pengangguran yang hobbynya belanja. Belanja tuh udah merupakan penyaluran sakit jiwa. Jadi kalau ga belanja badan sakit semua. Mulai dari pusing, sakit pinggang, sesak nafas. Saya sudah menyusuri tempat belanja dari yang paling klasik di via spiga dan via condotti di Italy, Begdorfgoodman, Saks fifth avenue di NY sampai yang paling Bizzar di pasar ular tanjung priok yang banyak menjual barang-barang sisa ekspor colongan dari kawasan berikat nusantara dan ngubek-ngubek barang-barang BJ alias bekas di pasar angso duo Jambi.
Saya rela jalan dari jam buka toko sampai jam tutupnya, sampai kaki bengkak sehingga harus beli sendal jepit baru.Dari yang masuk ke dalam mall masih gaya dan wangi, sampai jalan aja udah ga lurus karena kebanyakan beban tas belanja. Maklum miss Jinjing... ga pernah ga ada jinjingan di tangan. Dan yang terakhir mau pingsan di Takashimaya Singapore gara-gara kecapaian.Tapi kayaknya tidak pernah kapok dan makin hari makin gila dan daerah jajahan makin luas dari Eropa sampai gang-gang sempit di Singapore dan Guangzhou China. Semua ini dengan modal cuek... Penyakit ini memang kayaknya udah bawaan dari orok. Waktu jaman kuliah udah ga tau malu sama sahabat saya Vera, masuk ke toko Versace di Plaza Indonesia dan mencoba hampir semua model celana Jins yang lagi trend awal 90, warnanya juga pada norak, dan kita berakhir dengan "maaf ya mba... belum ada yang cocok. Berhubung sahabat saya ini juga gila ( sekarang kayaknya dia sudah insaf, saya belum ), kita melakukan kegilaan di bersama sama di Florence, Milan, Venice, Constance (94) sampai ngacak-ngacak pasar di Madiun beli daster(95).
Sekarang semua kegilaan ini akan saya sharing dengan teman-teman. Mungkin jika suatu saat travelling ke tempat yang saya kunjungi bisa membantu. Saya juga menerima personal konsultasi. Jadi kita bisa sama-sama sharing. C.U.