Jumat, November 16, 2007

ANGER MANAGEMENT


Saya rasa kita semua pernah marah, baik sama orang lain maupun terhadap situasi yang sedang kita hadapi ataupun situasi yang ada di sekitar kita. Situasi Jakarta yang semakin semerawut, kemacetan yang seakan tidak ada solusinya, waktu yang terbuang di jalan, kelelahan yang amat sangat (malfatigue ), menurunnya tingkat produktifitas, makin tingginya biaya hidup yang tidak dibarengi naiknya tingkat penghasilan, menambah beban hidup/tekanan mental pada setiap orang.

Kehidupan ini tidak statis, selalu ada perubahan. Yang tetap hanya perubahan itu sendiri semakin hari semakin cepat, hingga ada sebagian orang yang tidak dapat atau tidak sanggup menerima perubahan itu sendiri. Perubahan itu bisa cepat, bisa lambat dan kehidupan dengan caranya sendiri mencari jalan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan itu sendiri. Kita tidak dapat mengubah pasangan hidup, anggota keluarga, teman atau rekan kerja kita sesuai dengan yang kita inginkan, tetapi dia sendiri berubahwalau kadang dia sendiri tidak menyadarinya. Ada ungkapan "biarlah waktu yang menyelesaikan....." atau " nanti sejalan dengan waktu, masalah itu selesai.." mungkin bisa jadi benar...

Tidak semua orang memiliki kekuatan mental yang sama dalam menghadapi kehidupan yang semakin hari semakin kompleks dan kekuatan setiap orang ada batasnya. Batas akhir itu yang akhirnya menyebabkan keluarnya amarah dalam diri seseorang. Marah itu normal dan sebenarnya sehat. namun jika marah sudah mengakibatkan hilangnya kontrol diri, merusak dan mengusik atau mengganggu kehidupan orang yang ada disekeliling, maka marah itu patut diwaspadai. marah biasanya disertai perubahan prilaku,emosi dan kondisi biologis. Ketika kita marah, detak jantung dan tekanan darah meningkat cepat, begitu juga kondisi hormon adrenaline dan nor adrenaline kita. Marah yang terus menerus dan tidak terkontrol dapat memicu penyakit tertentu, seperti serangan jantung, stroke dan bahkan pemicu kanker.

Amarah yang keluar bisa dalam bentuk yang berbeda-beda. Ada sebagian yang berusaha memendamnya, ada yang mengelurakannya dengan kata-kata kasar, merusak, berolahraga atau bahkan malah shopping... Mungkin jika kita hidup sendiri amarah dapat disalurkan sekehendak hati kita, namun pada dasarnya di dunia ini tidak ada manusia bukan mahluk soliter dan tidak ada manusia yang hidup sendiri sehingga kita juga harusmempertimbangkan kepentingan orang lain yang ada disekitar kita.

Amarah yang belum tersalurkan mengandung energi yang dapat menimbulkan agresivitas dalam bentuk tindakan tertentu baik yang berdampak atau tidak berdampak pada orang lain. Kadang orang tidak menyadari agresivitas itu sendiri. Itu yang menyebabkan kita mendengar kasus -kasus pembunuhan sadis yang disebabkan hal-hal sepele bahkan di dalam keluarga sendiri. Saya pernah melihat dengan mata sendiri di pasar orang membacok orang lain hanya gara-gara berebut seikat daun seledri, atau kejadian di Cilincing, sesorang yang sedang mendorong sepeda motornya yang mogok, diteriakin maling, dikeroyok lalu dibakar hidup-hidup bersama sepeda motornya...Semua agresivitas di atas dilakukan oleh orang yang memendam rasa marah terhadap orang lain maupun terhadap keadaan sosial dan politik tertentu.

Memang ada orang yang memang dasarnya pemarah atau lebih gampang marah dari orang lain, biasanya dikarenakan genetis karena ada penelitian memang menunjukan bahwa ada anak-anak tertentu yang dari baru lahir sudah menunjukkan indikasi pemarah atau cepat tersinggung. Bisa juga karena latar belakang budaya tertentu yang memang membuat orang tidak terbiasa mengekspresikan rasa marahnya, sehingga ketika marah tidak tahu mengatasinya.

Menjadi manusia modern pada masa sekarang harus mempunyai kemampuan untuk mengontrol marah agar walaupun tersalurkan tidak menyakiti atau merugikan dirinya dan orang yang ada disekitarnya. Jadi walaupun marah tidak dapat dihindari, paling tidak kita dapat mengontrol reaksi berlebihan dari marah kita.

Ada teman saya yang jika sedang marah pergi ke driving range, mukul bola gingga ribuan kali sampai kecapaian baru pulang ke rumah, ada yang pergi ke laut, berteriak sekencang-kencangnya sampai kehabisan suara, sedangkan saya cenderung menumpahkannya dalam buku harian. Teman saya ada yang dengan sengaja membelikan suaminya sangsang tinju, supaya ketika suaminya marah, mengeluarkan emosinya dengan sangsang tinjunya bukan memukul dirinya atau anak-anak. Apapun bentuk penyalurannya sepanjang tidak merugikan atau menyakiti orang lain adalah hal yang sah saja.

Kiata tidak dapat menghilangkan sama sekali rasa marah dalam diri kita, namun paling tidak kita bisa mengontrolnya sebelum marah itu yang mengontrol hidup kita..

4myb3l0^3d

Tidak ada komentar: