Senin, Maret 09, 2009

GOLPUT

Kemarin saya ngobrol ngobrol sama teman teman... Saya sempat berargumen dengan teman teman saya masalah Golput untuk pemilu ini. Mereka bilang tahun ini mereka tidak mau nyoblos karena menurutnya tidak ada partai dan caleg yang berkenan sama mereka. Menurut teman teman saya, pemilu sekarang lebih mirip lawakan daripada pemilu yang sebenarnya. Para caleg ramai ramai pajang poster dan billboard, lebih mirip kontes model gadis sampul majalah dengan photo yang sudah ditusir kanan dan kiri, dari pada pemilihan caleg yang seharusnya bermutu dengan dengan mensosialisasikan program program yang jelas. Ribuan billboard, spanduk yang bertebaran di jalan jalan, dari jalan tol, jalan raya, jalan perumahan, jalan tikus sampai gang senggol, malah bikin pusing rakyat, bukan bikin rakyat bisa mengenal calon yang hendak mereka pilih.

Saya sendiri sebenarnya juga pusing sekali jika kita harus memilih sekian ratus calon anggota DPR RI, DPRD I dan DPRD II. Tidak ada yang saya kenal dan misi serta visi yang mereka bawa tidak ada yang konkret atau jelas. Buat saya mereka memang lebih seperti kompetisi gede gedean spanduk, banner dan billboard.

Tapi saya pribadi, merasa bersalah sekali jika tidak memilih dan jika bila terjadi sesuatu sama negara ini, rasanya kita tidak layak jika protes, karena kita tidak ikut memilih siapa yang duduk di parlemen ini, jadi kalau sampai " pelawak " atau " aktor " sinetron ulung semua yang duduk di parlemen kita, itu juga adalah kesalahan kita karena kita semua gagal memilih yang terbaik untuk negara kita tercinta ini.

Memang sih tidak memilih adalah hak pribadi seseorang, sama halnya dengan hak memilih. Menurut saya jika semua orang rame rame tidak memilih bisa hancur lah negara ini. Jika kita rame rame memilih untuk tidak memilih, maka saya rasa negara ini bisa berantakan. Jika pemilu gagal atau hasilnya tidak maksimal, siapa yang akan bertanggung jawab??? yang ada orang malah akan saling tuding. Dan yang ada negara ini bukan membaik , malah semakin kacau.

Save our nation

amelia masniari

4 komentar:

Lolita mengatakan...

Wow... pandangan yang khas untuk pemilu. Memilih karena merasa bersalah. Jangan lupa, mereka membuat banner dan stiker dananya dari mana?

cha*uree mengatakan...

saya juga pernah tuh, wawancara dengan seorang caleg partai tentang golput yang akhirnya saya diceramahi tentang orang yang tidak bisa menentukan pilihan adalah orang gila.. phew

taufan mengatakan...

Hahaha, tadinya ngga sengaja masuk blog ini stlh ngaskus (lho kok?). Salam kenal yah! Hmm.. komen seputar golput: nyoblos ngga nyoblos, adlh hak setiap org. Mslh-nya saya ga kenal dgn para caleg, secara mrk ga punya prestasi yg bisa dilihat. Kesannya jadi dipaksakan, kalo tetap hrs nyoblos. Ok, keep shopping yah :)

parvita mengatakan...

Hahaha...ngga ada ruginya, ga ada untungnya. Buat lucu2an aja. Atau nyoblos aja, soalnya kan kata MUI golput itu haram, hahaha, nyoblos supaya ngga masuk neraka. Apaaaa coba...

Saya malah lagi mikir2 menjadi caleg dengan komitmen akan menurunkan pajak alkohol. Calon dari daerah pilih wilayah Kemang. Wakakakakak....