
Harus diakui, salah satu Kelemahan butik-butik ( baik di Butik merek Internasional sampai butik multi brand ) di Indonesia terletak di Customer Service. Kadang saya mencoba mencari letak kesalahannya di mana, walau mungkin itu bukan hak saya, namun saya dengar banyak sekali kasus di mana kita jalan ke butik bukannya senang, justru mengalami dari tidak nyaman pelecehan sampai yang menjurus bentuk pelecehan. Saya sendiri pernah beberapa kali mengalaminya rasanya dongkol sekali dan tidak mau lagi balik ke butik itu.
Saya pernah ke butik S di Dharmawangsa Square, saya dipelototin dari ujung rambut sampai ujung kepala, dan sales attendant nya mengikuti setiap langkah saya... Mungkin saya super sensitif, tapi sorot matanya dan bahasa tubuhnya seakan berkata, " emangnya lu sanggup apa beli di sini !!! " Ok... i am not a socialite nor fashionista.... ok... in our culture still... the appereance judged, even don't judge the book by the appereance, but the appereance judged...." Tapi saya kan tidak layak diperlakukan semena-mena... Mungkin saya masuk ke dalam butik harus dengan memperlihatkan sederet kartu platinum atau prioritas di jidat saya, baru saya akan mendapatkan senyum dan sambutan yang ramah... Atau harus akting jadi tante-tante atau ibu-ibu kaya atau ibu-ibu pejabat dengan sasakan khasnya ?
Pernah saya ke Gucci di Plaza Indonesia, saya lagi lihat-lihat sambil megangin anak saya yang paling besar waktu itu masih dua tahun... baru saya pegang dia langsung bilang, ini 8 juta rupiah harganya... trus dia melototin anak saya... Emang siapa juga yang nanya harganya... saya kan baru lihat-lihat saja.... Waktu itu memang pakaian saya sederhana sekali, hanya rok jeans dan thight t hitam...
Yang lebih parahnya kadang jika kita baru berniat untuk lihat-lihat, siapa tahu ada yang menarik hati, kita sudah diserbu sama gerombolan SPG yang rebutan menawarkan berbagai macam barang yang berbeda dalam waktu bersamaan..ampun !!!!! ... wuih... sampai stress yang ada, begitu ada kesempatan langsung kabur deh.... Contoh Kasus di seluruh outlet Giordano di Jakarta. Giordano termasuk merek favorit saya untuk baju casual, tapi kalau di Jakarta saya jadi malas masuk gara gara gerombolan SPG nya.... Padahal di pusatnya di Guangzhou, China dan di Hongkong, SA GIORDANO tidak seperti koleganya di Jakarta... Saya rasa pasti ada yang salah dalam proses recriuitment dan training customer relationshipnya...
Yang lebih parah lagi...
Ok... I am not slimm like a model....
mungkin juga obesitas..... hehehe ( dalam kenyataannya orang OB sering mendapatkan pelecehan kok... )
Dan tidak lagi hamil.....
ceritanya nih... jalan-jalan ke Mangga Dua sama mantan pacar... eh itu SPG nya bilang begini, " maaf ya bu... kami tidak menjual baju hamil...... " emangnya siapa juga yang bunting.... trus saya ngeloyor pergi... untung perginya sama mantan pacar... kalau pas saya sama genk saya yang gerombolan si berat... pasti sudah kita acak-acak bersama butik itu.... tapi mantan pacar saya itu malah ketawa-ketawa... "makenye... diet donk say...."
Saya juga heran sama kelakuan para SA atau SPG di Indonesia. Kalau kerja di butik kenapa yah jadi songong dan belagunya melebihi para socialite .... padahal mereka gajinya paling-paling pas untuk makan dan transportasi... Memang sih sebagian dapat seragam dan make up... Kadang mereka dalam berjualan juga cenderung memaksa.. ( mungkin mengejar komisi atau bonus ) .
Pengalaman saya di Luar Negeri sangat jauh berbeda. Saya selalu mendapatkan perlakuan yang sangat baik dan terhormat tanpa melihat ras. Berdasarkan pengalaman saya, pelayanan terbaik yang pernah saya terima di seluruh dunia, adalah pelayanan dari butik-butik di Italy... (Mungkin kapan-kapan BSM harus Buying Trip Tour ke Milan... hehehee maunya gue sih !!! )
Saya sangat terpesona sekali dengan Gucci di Milan yang bersedia mencarikan sepatu yang saya inginkan namun tidak tersedia dalam ukuran saya di butik tersebut keseluruh outlet di Milan dan kota sekitarnya sampai ketemu. Begitu juga dengan butik Ferragamo dan Prada di Milan yang sangat super ramah. Di butik Trussardi, saya dilayani sampai ke mengecilkan sedikit dibagian panggul rok yang saya beli.
Sebagai pemilik butik ( di Indonesia ), mungkin kita masih harus belajar banyak dengan butik butik di luar negeri untuk memberikan pelayanan terbaik yang membuat orang balik dan balik lagi. Ada juga sih butik-butik di Indonesia yang menurut saya pelayanannya sudah sangat baik setara dengan butik-butik di luar negeri, Obin di Kemang, sangat baik, santun dan helpful dan begitu juga Biyan di PIM dan XSML di Plaza Senayan.
Menurut pendapat saya, sales attendant atau apalah namanya.... adalah garda terdepan yang menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah butik, karena bagi sebagian pemilik tentu tidak dapat mengontrol butik tersebut seterusnya... Pemilik butik sebaiknya memberikan perhatian , waktu dan sedikit rela invest untuk customer service, sales dan manner training yang berkesinambungan... Untuk jangka panjang tidak bakal rugi. Malah akan berdampak positif bagi butik kita
Amy













